Tekanan untuk mencapai bentuk fisik yang “sempurna” bukanlah fenomena baru, namun cara penyampaian tekanan tersebut telah mengalami transformasi radikal. Meskipun awal tahun 2000-an ditandai oleh subkultur lokal—para pengunjung gym dan klub yang menggunakan istilah “roid rage” sebagai istilah yang umum, namun ditakuti—era modern telah memindahkan upaya ini ke dunia digital. Saat ini, dorongan untuk mendapatkan tubuh berotot didorong oleh algoritma media sosial, yang menyebabkan peningkatan penggunaan steroid di kalangan remaja.
Pergeseran dari Ruang Fisik ke Umpan Digital
Pada dekade-dekade sebelumnya, tekanan terhadap citra tubuh sebagian besar terbatas pada kelompok teman sebaya, lingkungan sosial tertentu, atau komunitas kebugaran setempat. Saat ini, tekanannya sangat besar. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube berfungsi sebagai tempat pertunjukan transformasi fisik ekstrem yang konstan dan dikurasi dengan baik.
Pergeseran digital ini telah mengubah sifat tubuh “ideal”. Meskipun wacana mengenai citra tubuh sebelumnya sangat berfokus pada ketipisan pada anak perempuan, terdapat fokus yang berkembang dan mendesak mengenai dismorfia otot di kalangan pria muda. Tujuannya bukan lagi sekedar kebugaran, tetapi tingkat otot yang tidak dapat dicapai yang sering dicapai melalui bantuan bahan kimia.
Peran Algoritma dalam Mendistorsi Realitas
Faktor penting dalam tren ini adalah cara platform media sosial berfungsi. Penelitian menunjukkan bahwa bahayanya tidak hanya terletak pada konten itu sendiri, namun juga pada cara penyampaiannya:
- Penguatan Algoritma: Ulasan tahun 2025 di Pediatrics in Review mencatat bahwa algoritme TikTok dapat dengan cepat mulai merekomendasikan konten yang berfokus pada tubuh setelah interaksi pengguna yang minimal. Hal ini menciptakan “lingkaran umpan balik” di mana seorang remaja terjebak dalam arus bentuk fisik ideal.
- Menormalkan yang Ekstrim: Paparan terus-menerus terhadap video “bersinar” dan transformasi dramatis dapat membuat bentuk fisik yang ekstrem, yang sering kali disempurnakan secara kimia, tampak menjadi standar, bukan pengecualian.
- Korelasi dengan Penggunaan Zat: Penelitian yang diterbitkan dalam Body Image (2025 dan 2026) menunjukkan hubungan yang jelas: peningkatan paparan konten yang berfokus pada otot dikaitkan dengan tingkat ketidakpuasan yang lebih tinggi terhadap tubuh sendiri dan niat yang lebih besar untuk menggunakan zat peningkat penampilan, seperti steroid anabolik.
Resiko Medis dari Fisik “Jalan Pintas”.
Zat-zat yang dicari oleh remaja sering kali sangat berbahaya dan tidak sesuai dengan perkembangan manusia. Dokter melaporkan peningkatan penggunaan steroid anabolik yang kuat, termasuk trenbolone —obat yang awalnya dirancang untuk ternak dan tidak pernah disetujui untuk dikonsumsi manusia.
Menurut para ahli anak, dampak fisiologis dari zat-zat ini bisa sangat merusak dan permanen, termasuk:
– Kerusakan Organ: Risiko parah pada jantung, hati, dan ginjal.
– Gangguan Hormon: Gangguan pada proses perkembangan alami.
– Dampak Psikologis: Perubahan suasana hati dan perubahan perilaku yang tidak dapat diprediksi.
Mengidentifikasi Tanda Peringatan
Karena penggunaan steroid sering kali dirahasiakan, orang tua dan wali mungkin kesulitan untuk mengidentifikasinya. Meskipun tanda-tanda ini tidak secara pasti membuktikan penggunaan narkoba, namun merupakan indikator tekanan yang kuat terhadap citra tubuh dan penampilan fisik:
- Perubahan cepat dan tidak wajar pada massa otot atau penampilan fisik.
- Perubahan suasana hati, seperti peningkatan sifat lekas marah atau agresi.
- Fokus obsesif pada rutinitas gym, diet, dan pemantauan tubuh.
- Masalah jerawat atau kulit yang muncul secara tiba-tiba dan agresif.
Transisi dari tekanan sosial lokal ke pengaruh digital global telah membuat upaya mendapatkan tubuh “ideal” semakin meluas dan sulit untuk dihindari, sehingga mengubah tren kebugaran menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan.
Kesimpulan
Evolusi tekanan terhadap citra tubuh dari lingkaran sosial fisik ke algoritma digital telah menciptakan jalur berkecepatan tinggi menuju perilaku berisiko. Ketika media sosial terus menormalisasi bentuk tubuh yang ekstrem, komunitas medis memperingatkan bahwa dampak dari “transformasi digital” ini mungkin berdampak pada kesehatan jangka panjang suatu generasi.






























