Memahami ‘Doomerisme’: Mengapa Pesimisme Kronis Menyebar dan Cara Mengatasinya

15

Di era yang ditandai oleh perubahan teknologi yang cepat dan ketidakstabilan global, sebuah fenomena psikologis tertentu telah berpindah dari subkultur pinggiran internet ke arus utama: Doomerisme.

Dicirikan oleh pesimisme kronis dan keyakinan akan bencana yang tak terelakkan, “doomers” adalah individu yang memandang masa depan sebagai sesuatu yang suram. Bagi mereka, isu-isu sistemik—seperti perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan kerusuhan politik—bukanlah permasalahan yang harus diselesaikan, melainkan kepastian kehancuran yang membuat tindakan individu menjadi tidak berarti.

Mekanisme Keputusasaan: Mengapa Sekarang?

Meskipun pesimisme adalah sifat manusia yang tak lekang oleh waktu, para ahli berpendapat bahwa malapetaka telah semakin parah akibat era digital. Beberapa faktor yang saling berhubungan mendorong tren ini:

  • Lingkaran Umpan Balik Digital: Algoritme media sosial dirancang untuk memprioritaskan keterlibatan. Karena ketakutan dan kemarahan mendorong lebih banyak klik dibandingkan berita positif atau bernuansa positif, pengguna sering kali terjebak dalam siklus “pengguliran malapetaka”. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan konten bencana, semakin banyak algoritme yang memberikannya kepada mereka, sehingga menciptakan realitas terdistorsi di mana keputusasaan tampak universal.
  • Ketidakcocokan Biologis: Para ahli kesehatan mental mencatat bahwa sistem saraf manusia tidak berevolusi untuk memproses aliran tekanan global selama 24/7. Paparan krisis yang terus-menerus dari seluruh penjuru dunia dapat menyebabkan kelelahan emosional dan rasa “ketakutan eksistensial”.
  • Narasi Kemajuan yang Erosi: Khususnya bagi generasi muda, kepercayaan tradisional terhadap mobilitas ke atas dan kemajuan masyarakat yang stabil mulai memudar. Kurangnya kepercayaan terhadap institusi, ditambah dengan meningkatnya kecemasan terhadap perekonomian, membuat pandangan dunia yang pesimistis terasa seperti respons rasional terhadap kenyataan dibandingkan distorsi kognitif.

Biaya Tersembunyi dari “Tidak Ada yang Penting”

Bahaya doomerisme terletak pada kemampuannya untuk bertransisi dari kekhawatiran yang sah mengenai isu-isu dunia menjadi kelumpuhan dan sikap apatis.

Ketika seseorang mengadopsi pola pikir bahwa “tidak ada yang akan menjadi lebih baik,” mereka sering kali berhenti melakukan perilaku yang mendukung kesehatan mental dan kemajuan sosial. Hal ini dapat menyebabkan:
Meningkatnya Isolasi: Menarik diri dari hubungan sosial dan keterlibatan komunitas.
Reduction Agency: Berhenti mengejar tujuan, mempelajari keterampilan baru, atau menjaga kesehatan fisik.
Penurunan Kesehatan Mental: Meningkatnya risiko depresi, kelelahan, kecemasan, dan mati rasa.

“Ketika seseorang percaya bahwa tidak ada yang penting, mereka berhenti mengambil tindakan yang mendukung kesejahteraan mereka… Doomerisme dapat memutuskan hubungan orang dari harapan, dan harapan adalah faktor pelindung utama bagi kesehatan mental.” — Chloë Bean, Terapis Berlisensi

Strategi untuk Merebut Kembali Agensi

Untuk melepaskan diri dari spiral malapetaka tidak berarti mengabaikan permasalahan dunia; sebaliknya, hal ini memerlukan peralihan dari keputusasaan pasif ke keterlibatan aktif. Para ahli menyarankan beberapa langkah praktis untuk memulihkan keseimbangan:

1. Susun Informasi Diet Anda

Anda tidak memerlukan akses tak terbatas terhadap berita-berita menyedihkan untuk tetap menjadi warga negara yang terinformasi.
Tetapkan Batasan: Batasi konsumsi berita pada waktu tertentu (misalnya, 30 menit sehari).
Diversifikasi Sumber: Carilah “jurnalisme solusi” atau kisah kemajuan untuk menyeimbangkan narasi.
Gunakan Agregator: Andalkan buletin harian yang ringkas daripada feed media sosial yang terus-menerus untuk menghindari pengguliran impulsif.

2. Latih Berpikir “Keduanya/Dan”.

Hindari jebakan kesimpulan absolut. Daripada memilih antara “terinformasi” dan “bahagia”, terapkan pola pikir yang mengakui keduanya: Dunia memiliki tantangan besar, dan masih ada keindahan, koneksi, dan peluang yang tersedia saat ini.

3. Membangun Kembali Badan Lokal

Penangkal ketidakberdayaan global sering kali ditemukan dalam tindakan lokal dan nyata. Meskipun Anda mungkin tidak dapat menyelesaikan krisis global, Anda dapat memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar Anda.
Kemenangan Kecil: Membersihkan rumah, berkebun, atau menjadi sukarelawan.
Investasi Komunitas: Berfokus pada hubungan tatap muka dan proyek komunitas lokal, yang cenderung lebih membumi dan penuh harapan dibandingkan ruang online.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional

Penting untuk membedakan antara kekhawatiran yang sehat dan pola pikir klinis. Jika “apa gunanya?” menjadi pengaturan default, atau jika Anda mendapati diri Anda menarik diri dari kegembiraan dan menganggap semua informasi positif sebagai sesuatu yang “naif”, mungkin inilah saatnya untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental.

Terkadang, apa yang tampak sebagai sinisme sebenarnya adalah sistem saraf yang kewalahan sehingga membutuhkan dukungan untuk mengatasi kecemasan, trauma, atau kelelahan.


Kesimpulan: Doomerisme tumbuh subur di atas ilusi bahwa karena kita tidak bisa mengendalikan segalanya, maka kita tidak boleh mengendalikan apa pun. Dengan menetapkan batasan digital dan berfokus pada tindakan lokal yang bermakna, individu dapat mempertahankan kesadaran realistis mengenai isu-isu global tanpa mengorbankan kesejahteraan mental mereka.